Tarik-tarik Martabak

Embarasa kembali bertualang kuliner setelah cukup lama ditinggal oleh rekan satu tim kita, Zikri, yang pada bulan Oktober-November, 2016, lalu mengikuti residensi seni di Warsaw, Polandia. Sepulangnya dia dari Eropa, pengembaraan ketiga untuk edisi Embarasa ini kami lakukan pada hari Rabu, 14 Desember, 2016.

20161214_160958

Nah! Perlu dijelaskan di sini bahwa saya menulis catatan ini beberapa hari setelah kegiatan makan sore itu dilakukan, dan mengirimkannya ke Zikri sesegera mungkin. Mengingat kecerewetannya yang pada proses penerbitan artikel pertama dan kedua di Embarasa sangat naujubile…, keseriusan untuk menyelesaikan artikel ini secepat mungkin adalah bentuk tanggung jawab dari seorang rekan kreatif berdidikasi, berkomitmen, dan berkarakter. #tsah…!. Tapi, apa yang kemudian terjadi…?! Zikri justru mengulur-ulur waktu untuk mengedit tulisan ini hingga terbengkalai LEBIH DARI SATU BULAN!!!??? Dan itu rasanya: &%$#@&$@#*%@$@ !!! Awas lu, Jik!!! -_-

[“Bwahahaha! Ampun, Hil!”]

Oke…! *exhale … Kembali ke cerita pengembaraan ini, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di daerah Tebet untuk menyicipi sebuah rumah makan yang menyajikan menu martabak—setelah melewati suatu proses negosiasi pelik nan alay lewat Direct Message Instagram (karena menggunakan Whatsapp, Line, dan SMS sudah sangat biasa).

20161214_160943

Martabak yang kami coba waktu itu bukanlah martabak biasa—setidaknya bagi saya, dan abaikan saja keluhan tak berujung si Zikri yang meremehkan bentuk gedung rumah makannya! Beberapa bulan yang lalu, di laman jelajah Instagram saya muncul video martabak super cheesy—berdasarkan pengamatan gue yang merupakan… seorang individu milenial (Oke! Antum jangan komentar!), yang selalu mendayakan jempol untuk melakukan geser-atas-geser-bawah-lalu-kanan-dan-kiri layar gawai canggih nan pintar serta mobile-nya, ditariklah satu hipotesa bahwa sekarang ini, ternyata, lagi ngetrend banget apa-apa dikeju-in, dikit-dikit dimozzarella-in, dan zzzzzz…!—maka jari saya pun memutuskan untuk mem-follow @martabaklab di Instagram. Kalau kamu lihat isi Instagramnya, pasti pada ngiler dan ngomong dalam hati, “Fix! Gue harus makan ini!” And, that’s what I feel waktu pertama kali liat ig @martabaklab ini. Karena saya sering berkomunikasi dengan Zikri lewat Direct Message Instagram, saya men-share salah satu feed ig @martabaklab ini ke Zikri dan akhirnya kami pun memutuskan @martabaklab sebagai destinasi Embarasa edisi ketiga. Yuhhhuuuuuu…!

[“Wah, gaya nulis lu boljug juga, nih, Hil! Ciyeee!”]

Sore itu, hujan cukup deras mengguyur Depok (pas banget, kan, ujan-ujan makan martabak…?!). Menariknya, tim Embarasa hari itu mengajak ikut serta seorang teman, yaitu Melisa, lulusan FIB UI 2010 (find her on Instagram @ehmelisa). Kami saat itu berangkat dari lokasi yang berbeda: Zikri dan Melisa dari Forum Lenteng, sedangkan saya masih menunggu hujan reda di kampus yang tetanggaan dengan kampusnya Melisa. Saya baru sadar, belakangan, bahwa waktu itu kami bertiga menggunakan tiga medium sekaligus untuk saling bertanya keberadaan masing-masing (Instagram, SMS, dan Whatsapp—yah, akhirnya WA pun tetap digunakan juga), padahal satu medium aja cukup keleuz zzzz…zzz…zzz! Zikri dan Melisa tiba lebih dulu di TKP, saya sepuluh menit kemudian…

[“Sepuluh menit pale lu…?! *jitak]

Untung saja mereka berdua belum memesan makanan. Hahaha!

Seperti yang saya sebutkan tadi, awalnya Zikri dan Melisa terus-menerus berujar, “Kok, gak meyakinkan, ya, tempatnya…?” Saya pun jadi ragu, dan cara saya meyakinkan diri sendiri untuk mampu bertahan menghadapi keluhan skeptis mereka adalah: buka ig @martabaklab dan kembali ngeliat feeds ig-nya, terus suggested ke diri sendiri di dalam hati, “Pasti gak zonk…, pasti gak zonk…, pastiiiiii…!”

20161214_164439

Ternyata, Guys, Martabak Lab yang berlokasi di Jalan Tebet Utara Dalam ini bentuknya memang seperti food container kecil dengan tulisan “This Is Not Meth”!!! Pertama kali mencari lokasinya, saya juga sempat kebingungan karena tulisan “Martabak Lab”-nya tak begitu kentara. Tapi, letaknya tidak jauh, kok, dari Comic Cafe. Dari Stasiun Tebet, kamu bisa menempuhnya dengan berjalan kaki menuju pertigaan di dekat Comik Cafe, lalu berbelok di pertigaan itu dan carilah Eat Happened, lokasi Martabak Lab persis berada di seberangnya!

Lah, kalau bentuknya kayak food container, berarti area untuk duduknya sempit, dong…??? Jangan khawatir, karena food container Martabak Lab itu berdiri persis di depan (area parkir) kafe yang cukup PW buat nongki-nongki, Dine Inn, dan kita bisa memesan menu Martabak Lab untuk dimakan di kafe tersebut.

20161214_160926

Setelah ketiganya berkumpul di TKP, kami memutuskan untuk memesan martabak Italian Favourite dengan harga 86k. Berhubung hari itu lagi happy hour (15:00 – 18:00 WIB), kami berhak memesan dengan gratis satu martabak manis. Sayangnya, menu gratisan khusus happy our ini hanya bisa dipesan kalau kita membeli menu Italian Favourite saja, tidak berlaku untuk menu martabak yang lain. Sementara itu, martabak manis chocolate meises + peanut + cheese adalah menu gratisan yang kami pilih. Bener, kan, udah makan yang asin ama gurih, terus dinetralin pake yang manis-manis…? *preeet, teori darimane*

Ketika menu pertama menghampiri meja kami, hanya ada satu kata yang langsung keluar dari mulut saya dan Melisa: “Wuiiihhhh!!!”

20161214_163405

Menu martabak yang satu ini terdiri dari tiga bahan utama saus—sebenernya, gue agak bingung untuk ngebedain ini saus demi-glace atau saus tomat biasa—lalu keju, paprika hijau, dan beef. Hanya saja, bagi kalian yang berharap bahwa menu Italian Favourite ini akan tampak seperti di video-video yang kejunya BEUH banget, saya sarankan jangan pesan ini. Menurut saya, tampilan keju di menu ini kurang Instagramable. Hahahaha!!! Ya, banyak, sih, kejunya, tapi untuk ditarik-tarik seperti yang ada di video promosi Instagramnya itu, menu ini sangat tidak cocok. Kalau soal rasa, dari skala 1-10, saya beri nilai 8, deh! Kalau menurut Zikri dan Melisa, berapa…?

[“Ya, lumayan lah… tujuh koma lima, kali ye…?!”]

20161214_163132

20161214_163215

Untuk martabak manisnya…, ya, standar lah: porsi keju, coklat, dan kacangnya lumayan oke, tapi yang terasa di gigitan pertama justru lebih dominan kacangnya daripada kejunya. Dalam waktu lima menit, Italian Favourite kita ludes (sisa satu, sih, sebenernya). Zikri makan beberapa gigit saja sehingga saya dan Melisa seketika merasa bersalah. Soalnya, sebagian besar biaya untuk hajat kami di Martabak Lab hari itu ditanggung oleh Zikri. Wkwkwk! Tapi kami tak begitu khawatir, karena masih ada martabak manis gratisan dari happy hour yang masih bisa disantap Zikri.

20161214_171049

Ternyata, saya dan Melisa masih ingin makan martabak telur yang Instagramable itu. Untung kami sepemikiran dengan Zikri, donatur kami. Hahaha! Akhirnya, saya dan Melisa memesan satu menu lagi yang kalau kamu lihat di Instagram @martabaklab, fix, kalian akan langsung datang untuk menyicipi menu-menu martabak di food container ini…! Kami memesan Meat and Cheese Lovers’. Untuk menu ini, kami akah share ke kamu semua proses pembuatannya. Please, check it out: our first amateur vlog! Wkwkwk!

The biggest power of Meat and Cheese Lovers’ ini memang mozzarellanya yang super banyak dan, pastinya, kalau kita tarik-tarik buat difoto untuk Instagram, orang-orang bakal ngiler. Saya dan Melisa pun melakukan hal yang sama. Hahaha! Pantang makan sebelum foto dan update di Instagram Stories kita. Saya sempat mengira bahwa kata “meat” dari menu martabak ini adalah daging-daging cincang biasa. Ternyata, daging yang dimaksud adalah sosis sapi. Lezat!

Pelayanan Martabak Lab juga cukup memuaskan. Abang-abangnya ramah dan sangat open sama masukan, loh! Sewaktu saya merekam proses pembuatan martabak, si abang-abang sempat bertanya, “Kira-kira ada yang kurang, gak, Mbak dari menu kita? Ya, gak pa pa, buat masukan, siapa tau ada yang bisa ditambahin…” Melisa lantas memberikan masukan ini-itunya untuk menu Italian Favourite.

img-20170130-wa0029
Hillary (berdiri) dan Melisa (duduk di kursi) sedang bersiap pulang setelah menikmati martabak di Martabak Lab.

*Kembali memberi rating* Berdasarkan skala 1 sampai 10, saya beri nilah 7.5 secara keseluruhan untuk Martabak Lab. (Kalo lu berdua gimana, Mel, Zik?)

[“Berapa, yak? Hahaha. Gue udah terpesona duluan ama gaya tulisan lau!” *preet]

Menutup tulisan ini, saya ada satu saran untuk martabak lab: happy hour-nya jangan hanya untuk satu menu yang paling mahal dong, Bang! Wkwkwk! Untuk menu favorite, misalnya Meat and Cheese Lovers’, kayaknya juga oke, tuh, kalau bisa ada dalam kategori happy hour. HEHEHHEHEHE!!! Saran untuk kamu, pembaca Embarasa, silakan follow dulu akun Instagram @martabaklab. Bisa dipastikan, realita di Instagram dan aslinya gak jauh beda kok. Sumpeh…!

Advertisements

Dendeng Batokok yang Hampir Terlupakan

1476262205619

Baiklah! Saya rasa ingatan tentang si dendeng batokok yang saya beli di warung Sate Padang & Dendeng Batokok Salero Uni, Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, akan semakin buram jika tak segera dituliskan. Sialnya, detik ini, saya lupa tanggal berapa dendeng batokok untuk Hillary itu saya beli. Tanggal 22 September, mungkin. [Kalau gue gak salah ingat, hari itu Siba sampai di Jakarta dari Lombok—atau sehari setelahnya, ya…?].

***

1476262204136

Sementara Zikri menyusuri Mall Kota Kasablanka untuk mencari dendeng batokok, saya masih menenggelamkan tubuh, bergolek di kasur kosan dan sengaja menahan lapar agar bisa mencicipi dendeng batokok ala kampung halaman Zikri itu dengan lahap.

***

1476262214741

Berasal dari Minangkabau, meskipun tersohor dengan rasanya yang lezat, dendeng batokok tampaknya tak seistimewa Rendang dalam hal penciptaan mitos dan filosofinya oleh masyarakat. Beberapa blogger menulis—dengan sumber yang belum terpercaya, tentu saja, tetapi situasi ini mungkin menarik (dan menggugah) karena dalam keadaan tertentu menguatkan karakteristik (atau stereotipe) atas makanan-makanan tradisional: fakta mengenai kultur tutur yang “menjamin” pelestarian segala hal yang tradisional—bahwa komposisi Rendang merepresentasikan konstruksi sosial masyarakat Minangkabau: (1) daging sapi melambangkan Niniak Mamak (pemimpin Adat); (2) Karambia atau kelapa melambangkan Cadiak Pandai (kaum intelektual); (3) Lado (cabai) melambangkan Alim Ulama; dan (4) Pemasak (bumbu) melambangkan seluruh masyarakat Minangkabau. [Gue penasaran, ada gak sih ahli yang nulis ini jadi buku?]. Sedangkan filosofi dari dendeng batokok? Sepertinya, nihil!

Tapi, jika kita mengacu pada salah satu cara memasak dendeng batokok (saya pribadi heran, kreativitas manusia terus berkembang, bahkan dalam hal memasak makanan; nyatanya ada begitu banyak cara untuk memasak jenis makanan ini, walau pada akhirnya tetap menggunakan nama yang sama, ‘dendeng batokok’), lado hijau (cabai hijau) yang merupakan rahasia andalan dalam menikmati dendeng batokok itu—bisa saja, kan, cabai hijau ini juga kita posisikan sebagai perlambangan dari pemimpin agama yang ‘segar’ (bukan pemimpin yang ‘hijau’)?!—ternyata menggunakan air kelapa sebagai salah satu bumbunya (yang diaduk bersama dengan gilingan tomat, bawang merah, garam, dan perasan jeruk nipis). ‘Cadiak Pandai’ pada ‘dendeng batokok’, dengan kata lain, hadir dalam bentuk yang cair (air kelapa). Karena keberadaannya justru menjadi kunci bagi kesegaran lado hijau, ini bisa kita lihat sebagai lambang dari: “kaum intelektual (kelapa) yang menjadi kunci kesegaran bagi sebuah lembaga sosial lainnya, yakni Alim Ulama (lado) yang menaungi masyarakat”. Saya pribadi percaya bahwa agama akan terasa begitu kering (karena hanya akan diajarkan sebagai doktrin) jika tak ada pengetahuan (kebebasan berpikir) yang mengiringinya. [Saddeeeeesssttt…! Oke, gue ngarang! Hahahaha!].

***

Aduh…! Saya harus nulis apa, ya…? [Zikri sudah seperti orang gila, tanpa henti menagih tulisan saya. Sementara, tugas seminar belum juga kelar. Deadline-nya, duh, maaaaaaaaaak!].

***

Tak banyak yang bisa saya tulis tentang “dendeng batokok” ini, sebenarnya. [Lah, lu ternyata juga mentok, kan, Zik…?! Zzzzzzzzz…!!!].

Hahaha! Terlepas dari masalah interpretasi filosofis saya tentang dendeng batokok yang sedikit “gagal-paham” itu—Yah…, paling tidak dia tetap valuable sebagai ‘dendeng batokok’ versi Zikri (dan Hillary juga, mungkin?) [“Nggak, Zik! Dih…!”]—seharusnya tulisan ini dimulai dengan kisah saya membawakan sekotak nasi dengan selauk dendeng batokok untuk makan siang Hillary di Takor (sebutan untuk nama kantin di kampus FISIP UI, Depok). [“Niat beut lu, Zik! Hahaha!”].

Itu ide sepintas lewat ketika saya mengambil visa di kantor kedutaan Polandia. Hari itu, kami gagal mengembara ke Tanah Abang untuk mencari dendeng batokok seperti yang sudah kami rencanakan. Karena, selain saya harus mempersiapkan segala hal sebelum terbang ke Warsaw, Hillary pun masih harus berhadapan dengan jadwal rapat organisasi (yang ternyata hari itu rapatnya tak kunjung dimulai hingga malam tiba) dan deadline tugas-tugas kuliahnya. Namun, di mata saya, kedua hal itu hanyalah kendala klise. Saya pun berpikir, tak ada salahnya jika agenda makan dendeng batokok kami tersebut tetap direalisasikan pada hari itu, meskipun sang dendeng harus disantap di meja makan yang jaraknya 17 km dari tempat si penjual. [Dan di saat gue berhasil mencapai meja Takor, gue harus rela menunggu lebih-kurang satu jam sampai Hillary menampakkan batang hidungnya…! Parah lu, Hil! Zzz…!].

Hillary, dengan ekspresi cerianya saat menerima dendeng batokok.
Hillary, dengan ekspresi cerianya saat menerima dendeng batokok.

Alasan untuk tetap mengupayakan agar agenda “makan dendeng batokok bersama Hillary” itu terwujud, bukan apa-apa, adalah sebagai sebuah eksperimen kebudayaan. [#tsaaah!]. Please, don’t get me wrong! Ini bukan kegiatan lucu-lucuan untuk menarik semacam perhatian—sebagaimana yang mungkin tengah diduga oleh beberapa orang, termasuk orang-orang (ter- dan di-)dekat kami. [#ups!]. Embarasa memang kami niatkan untuk bergembira: membangun kedekatan, keakraban, dan keintiman terhadap hal sehari-hari…

[“Serta mengulik kebudayaan dari sudut pandang xxxxxxxxxx… (tambain penjelasannye, ye, Bang! Wkwkwkwk!)” kalimat ini tahu-tahu nongol di file word versi suntingan Hillary. Zzzz…].

[Oke, mungkin bisa gue tambahin begini aja, Hil: ditambah sedikit “tanda tanya” di kepala Anda. [#asyek]. Hahaha!].

Maaf, Pembaca, kalau kami bercanda dengan cukup lebay! Maksud kami, tepatnya: mengulik kebudayaan dari sudut pandang yang fun, barangkali. [Au ah gelap! Haha!].

Bagi pegiat media seperti saya, di satu sisi, kegiatan ini merupakan bagian dari sebuah perayaan atas perkembangan teknologi komunikasi dan informasi masa kini yang memungkinkan semua orang saling berbagi pengalaman-pengalaman kreatif. Mengelola blog ini sebagai kanal personal, di sisi lain, merupakan bentuk latihan alternatif dalam membingkai hal remeh-temeh menjadi narasi yang begitu bernilai, setidaknya bagi kami sendiri, pengelola Embarasa. Demi cita-cita agar media alternatif ini memiliki dampak yang efektif, maka menjaga konsistensi eksperimen adalah langkah utama untuk memastikan supaya bahan untuk terbitan blog ini tetap tersedia.

***

Masalahnya, ternyata saya lapar duluan. Jadilah kemudian saya menyantap porsi saya sendiri di Kokas [Gue beneran baru tau kalau mall itu biasa dipanggil dengan singkatan “kokas” waktu Hillary teriak, “Oooh, lu belinya di Koookaaas…?!”, dengan ekspresi yang (seperti biasa) lebay, pas dia ngecek beberapa foto TKP yang gue ambil. Zzz…]. Satu porsi lainya yang dikemas ke dalam kotak makanan terbuat dari plastik yang cukup kokoh untuk dibawa dalam sebuah perjalanan melintasi rimba raya macet di waktu siang-menuju-sore, saya siapkan untuk disantap Hillary di kampus rakyat.

***

And, well…! Setibanya di kampus rakyat dengan setelan kuliah sehari-hari—baju kaos, jeans, jaket, dan ransel—saya langsung menegur Zikri yang tengah duduk merokok di salah satu meja Takor, “Woi! Mana dendengnya…?”

1476262217779

Tanpa basa-basi, Zikri menyuguhkan makanan tradisional yang terlihat dikemas dalam tampilan yang cukup modern. Bentuk nasi yang disajikan pun cukup kekinian [Halah…!]: berbentuk tempurung terbalik, seperti nasi yang sering kamu temui di restoran-restoran junk food. Tidak seperti gambar-gambar dendeng batokok yang cukup oily dan menggugah selera, seperti yang sering saya temukan di Google dan rumah makan Padang, dendeng batokok dengan kemasan modern yang sudah ada di depan mata saya saat itu, pada awalnya, terlihat agak kering dan tidak menyatu dengan sambal hijau yang ada di atas dendengnya. Saya pun sempat meragukan rasa dendeng batokok dari Zikri itu.

Seperti biasa, sebelum menyantap dendeng, saya yang hobi jeprat-jepret dengan moto “with pictures, some memories never fade” [#asyek], tidak absen merogoh saku dan mengambil handphone untuk mengabadikan momen Embarasa edisi kedua ini.

Dengan perasaan cukup ragu, saya akhirnya membelah dendeng yang tebal itu. Nyatanya, jauh dari perkiraan saya, justru dendeng batokok yang saya makan hari itu terasa begitu lembut, bumbu yang ada di dalam dendengnya menambah cita rasa nan gurih. Dendeng batokok kokas—begitu saya lebih senang menyebutnya—berhasil menaklukkan lidah saya. Cukup lama saya hanya menyantap dendeng dan nasinya saja; saya hampir lupa bahwa ada cabai hijau di dendeng batokok itu. Karena saya takut menyicipi sambal hijau si dendeng batokok [jujur saja, saya kurang suka makanan pedas], Zikri tak henti-hentinya berusaha meyakinkan saya bahwa sambal hijau dendeng batokok versi Salero Uni ini tidak pedas. Ada sekitar satu menit kami berdebat perihal “kenapa cabai bisa diolah menjadi tidak pedas”. Di akhir perdebatan, saya memberanikan diri menyantap sambal hijau si dendeng batokok.

Di luar dugaan, saya merasa aman sekaligus senang, bisa menyantap sambal yang tidak pedas sama sekali! Hurrraaayyy…!!! Hehehe! Soalnya, orang yang tidak menyukai pedas seperti saya akan kesal sekali apabila dalam makanannya terdapat instrumen yang menjadikan seluruh makanan menjadi pedas. [Zzzz….!].

Ketika dendeng batokok itu akan habis, Zikri bergumam, “Rasanya biasa aja, ya…?”

“Menurut gue, sih,…” Zikri berujar sambil terus memperhatikan saya menikmati suapan-suapan terakhir dendeng batokok, namun saya lupa lanjutan kalimatnya. Tapi menurut saya, mungkin karena dendeng batokok yang kami santap pada hari Kamis, 22 September, 2016 itu [Ya, tanggalnya bener, kok, Zik…] kurang menggambarkan apa yang tepatnya biasa kita sebut “Padang banget”. Hehehe!

Gaya kami (saya dan Zikri), sore hari di Takor, ketika dendeng batokok itu tak lagi bersisa.
Gaya kami (saya dan Zikri), sore hari di Takor, ketika dendeng batokok itu tak lagi bersisa. (Abaikan merek botol minuman! Bukan bermaksud iklan. Hahaha!).

Overall, rasa dendeng batokok yang dibeli Zikri dapat dikategorikan enak, namun cita rasa “Padang banget”-nya belum dapet. [HAHAHA! Sorry, Zik! Wkwkwkwk!]. Mungkin next time, kami akan mencoba membeli dendeng batokok langsung di rumah makan Padang. [Ke Tanah Abang-nya tetep dijadiin aja sepulang lu dari Polandia, ye, Zik! Haha!].

embarasa Pertama: Sate Padang Pak Abdul

20160914_220941

DULU, SAYA PERNAH tinggal di Kutek (singkatan dari Kukusan Teknik), sebuah lokasi perkampungan di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Depok, tempat rata-rata mahasiswa Universitas Indonesia (UI) tinggal menyewa kos-kosan. “Kutek” sendiri adalah istilah yang umum dikenal karena daerah perkampungan itu berbatasan langsung dengan pagar dan pintu masuk kampus UI, yang berdekatan dengan Fakultas Teknik.

Di sepanjang jalan H. Amat, yakni dari depan pintu gerbang pagar UI hingga ke simpang jalan Juragan Sinda, akan kita temui banyak kos-kosan yang saling bersebelahan dengan rumah makan (warteg, warung bakso, rumah makan padang, warung bubur kacang ijo, dan rumah makan dengan ragam menu lainnya).

Sudah lebih dari setengah tahun saya pindah ke daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, dan tidak tahu apa-apa saja yang bisa dibilang seru di Kutek sekarang ini. Hingga kira-kira dua minggu yang lalu, Hillary, yang sekarang menetap di salah satu kosan di Kutek, menceritakan bahwa di depan Masjid Al-Hikam, tidak jauh dari ATM BNI, ada penjual sate padang (gerobak) yang rasanya lezat sekali. Kosan saya dulu persis di sebelah masjid itu. Sejauh ingatan saya, penjual sate di dekat sana hanyalah warung tongseng, bukan sate padang, bukan berjualan dengan gerobak.

20160914_192059

Tak terima dengan candaannya bahwa saya orang yang tidak peka, saya pun menantang Hillary untuk memastikan apakah sate padang yang ia bangga-banggakan itu benar selezat ceritanya—cukup unik juga di mata saya, perempuan kelahiran Toraja itu secara spesifik menyebut sate padang adalah makanan favoritnya. Sedangkan saya yang besar di keluarga berdarah Minang, rasa semua sate sama saja: kalau bukan enak, ya, enak banget.

***

Kelanarasa—demikian kami (saya dan Zikri) bersepakat menamai blog ini (belakangan, kami mengubahnya menjadi “embarasa”, gabungan dari “embara” dan “rasa”, karena “kelanarasa” sudah ada yang menggunakan)—pada hari Rabu (13 September, 2016) yang lalu, mencoba untuk mencicipi makanan tradisional khas Sumatera Barat, Sate Padang. Setelah berjalan cukup jauh dari gerbang Kutek (“Halah, lebay! Zzz…!” seru Zikri saat menyunting tulisan saya ini), kami pun mencium aroma sate padang dari sebuah gerobak yang beberapa waktu sebelumnya sudah saya ceritakan kepada Zikri. Gerobak itu berdiri di balik mobil yang parkir di depan masjid Al-Hikam. Beberapa detik sebelum rintik hujan turun, saya memesan dua porsi sate padang dan meminta si penjual sate tersebut untuk mengantarkannya ke sebuah warung penjual jus dan sop buah yang tepat berada di seberang masjid.

whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-19

Usaha sate padang yang dirintis sejak 2013 ini terbilang cukup laris, sejauh pengamatan saya. Dengan bermodalkan 600 – 700 ribu rupiah per harinya, Pak Abdul mengolah 3,5 kg daging sapi menjadi lebih kurang 600 tusuk sate. Ia menyajikan sepuluh tusuk untuk satu porsi piring. Jikalau sedang beruntung, Pak Abdul bisa menjual lebih dari 60 piring setiap harinya.

whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-57 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-54 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-51 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-28-29

Di lidah saya, cita rasa sate padang Pak Abdul tak kalah dengan sate padang yang biasa dijual di restoran-restoran mewah. Bumbu kuning sate padang Pak Abdul mempunyai rasa rempah-rempah yang kuat, terutama ketumbar, jintan bubuk, lada, dan cabainya (“Hm…! Gue yakin, nih bocah nyari di Google, kayaknya, supaya tau apa aja isi bumbunya…! Hahahah!” sekali lagi Zikri berseru geli). Belum lagi, jika dinikmati dengan saksama kuah sate padang yang ditaburi bawang goreng, melengkapi cita rasa yang melekat di setiap tusuk sate daging sapi yang segar. Tak lupa, tambahan keripik singkong balado khas Minang, yang umum menjadi menu pelengkap sate padang—Zikri sempat mengatakan bahwa pedagang sate yang tidak menyediakan keripik ini, bisa jadi dia bukan orang Minang asli.

***

Karena malam itu hujan turun dengan deras, saya dan Hillary akhirnya menyantap sate itu di sebuah warung yang tak jauh dari lokasi gerobak. Saya memesan jus alpukat, dia memesan jus apel. Kami harus memesan minuman jus di warung tersebut supaya diizinkan oleh pemilik warung untuk menikmati makanan dari luar warungnya. Ketika sate disajikan—berkali-kali saya geli mendengar Hillary saat itu berseru, “Aduh, kasihan bapaknya, ujan-ujanan…!” (Biase ae kali, Hil…! Zzz…!)—dengan mental blogger pemula, saya dan Hillary pun mengeluarkan smartphone masing-masing dan… jepret jepret jepret…!

Hillary.
Hillary.

Sempat terlintas di benak saya bahwa tingkah-laku kami berdua saat itu persis seperti para maniak media sosial yang mendokumentasikan semua hal—umumnya, makanan yang instagramable—atau seperti vlogger-vlogger yang tengah marak di YouTube. Saya juga sempat merekam sebuah video adegan Hillary menyantap sate, tetapi setelah saya tinjau kembali di laptop, ntar dulu ae dah uploadnye, ye, Hil…!?

Sembari makan, kami bergosip tentang kehidupan kampus (saya yang sudah lulus dari UI dua tahun lalu, tak begitu update dengan perkembangan gosip terbaru mengenai keseharian mahasiswa di FISIP UI). Di sela gosip, Hillary terus saja meyakinkan saya, “Enak, kan, satenya…?!” Dia juga masih tak percaya kalau di Kota Padang, tidak ada yang namanya sate padang. “Ya, iyalah! Di sana, orang nyebut ‘sate padang’ cuma dengan kata ‘sate’ aja,” ujar saya, menanggapi.

Zikri.
Zikri.

Rasa sate padang Pak Abdul cukup memuaskan lidah juga. Momen-momen yang seperti ini yang justru mengingatkan saya dengan kampung. Ondeh, Mak!

***

Bagi kalian penikmat masakan semi pedas, atau baru belajar menikmati masakan pedas, sate padang Pak Abdul menjadi pilihan kuliner yang tepat untuk memuaskan lidah. Bumbu sate padang yang gurih dan rasa daging sapi yang khas membuat kita akan terus menyantap sate padang hingga mengabaikan rasa pedas yang ada pada bumbu kuning sate padangnya. Pria yang memiliki nama lengkap Abdul Rozak Siregar (36) ini merupakan keturunanan Batak Mandailing yang berasal dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Ia membangun usaha kuliner sate padang bersama isterinya, seorang perempuan keturunan asli Minangkabau, asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Kisah kasih mereka berawal di kota Batam, mereka bekerja dalam satu perusahaan yang sama, lalu sama-sama mempunyai kesukaan akan sate padang sehingga muncul ide untuk hijrah ke Depok dan membangun usaha ini.

Sate Padang Pak Abdul dapat kita temukan dengan berjalan kaki sekitar lima menit dari gerbang Kutek. Gerobaknya selalu mangkal di sekitar pekarangan Masjid Al-Hikam, di dekat sebuah ATM BNI. Satu porsi sate padang yang berisi dua bungkus ketupat, bumbu kuning, bawang goreng, dan sepuluh tusuk sate, berharga Rp13.000,- sementara sebungkus keripik balado berharga Rp2.000,- saja. Jika ingin menikmati ketupat tanpa daging, kita cukup membayar Rp5.000,- rupiah saja. Murah, kan?!

20160914_221143
Pak Abdul, si pedagang sate yang baik hati.

Demikian pengelanaan pengembaraan perdana saya dan Zikri, menyantap masakan sate padang. Lain kali, kami akan berbagi cerita tentang menu makanan lainnya—sepertinya, di beberapa terbitan ke depan, kami akan berbagi cerita tentang makanan padang. Zikri sempat memberi usul ketika kami menunggu Gojek (Zikri harus kembali menuju markas komunitas tempatnya berkegiatan sebagai pegiat seni), bahwa kelana embara berikutnya adalah menikmati dendeng batokok di rumah makan padang sekitaran Tanah Abang. Bagaimana rasanya? Kita lihat saja nanti.