embarasa Pertama: Sate Padang Pak Abdul

20160914_220941

DULU, SAYA PERNAH tinggal di Kutek (singkatan dari Kukusan Teknik), sebuah lokasi perkampungan di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Depok, tempat rata-rata mahasiswa Universitas Indonesia (UI) tinggal menyewa kos-kosan. “Kutek” sendiri adalah istilah yang umum dikenal karena daerah perkampungan itu berbatasan langsung dengan pagar dan pintu masuk kampus UI, yang berdekatan dengan Fakultas Teknik.

Di sepanjang jalan H. Amat, yakni dari depan pintu gerbang pagar UI hingga ke simpang jalan Juragan Sinda, akan kita temui banyak kos-kosan yang saling bersebelahan dengan rumah makan (warteg, warung bakso, rumah makan padang, warung bubur kacang ijo, dan rumah makan dengan ragam menu lainnya).

Sudah lebih dari setengah tahun saya pindah ke daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, dan tidak tahu apa-apa saja yang bisa dibilang seru di Kutek sekarang ini. Hingga kira-kira dua minggu yang lalu, Hillary, yang sekarang menetap di salah satu kosan di Kutek, menceritakan bahwa di depan Masjid Al-Hikam, tidak jauh dari ATM BNI, ada penjual sate padang (gerobak) yang rasanya lezat sekali. Kosan saya dulu persis di sebelah masjid itu. Sejauh ingatan saya, penjual sate di dekat sana hanyalah warung tongseng, bukan sate padang, bukan berjualan dengan gerobak.

20160914_192059

Tak terima dengan candaannya bahwa saya orang yang tidak peka, saya pun menantang Hillary untuk memastikan apakah sate padang yang ia bangga-banggakan itu benar selezat ceritanya—cukup unik juga di mata saya, perempuan kelahiran Toraja itu secara spesifik menyebut sate padang adalah makanan favoritnya. Sedangkan saya yang besar di keluarga berdarah Minang, rasa semua sate sama saja: kalau bukan enak, ya, enak banget.

***

Kelanarasa—demikian kami (saya dan Zikri) bersepakat menamai blog ini (belakangan, kami mengubahnya menjadi “embarasa”, gabungan dari “embara” dan “rasa”, karena “kelanarasa” sudah ada yang menggunakan)—pada hari Rabu (13 September, 2016) yang lalu, mencoba untuk mencicipi makanan tradisional khas Sumatera Barat, Sate Padang. Setelah berjalan cukup jauh dari gerbang Kutek (“Halah, lebay! Zzz…!” seru Zikri saat menyunting tulisan saya ini), kami pun mencium aroma sate padang dari sebuah gerobak yang beberapa waktu sebelumnya sudah saya ceritakan kepada Zikri. Gerobak itu berdiri di balik mobil yang parkir di depan masjid Al-Hikam. Beberapa detik sebelum rintik hujan turun, saya memesan dua porsi sate padang dan meminta si penjual sate tersebut untuk mengantarkannya ke sebuah warung penjual jus dan sop buah yang tepat berada di seberang masjid.

whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-19

Usaha sate padang yang dirintis sejak 2013 ini terbilang cukup laris, sejauh pengamatan saya. Dengan bermodalkan 600 – 700 ribu rupiah per harinya, Pak Abdul mengolah 3,5 kg daging sapi menjadi lebih kurang 600 tusuk sate. Ia menyajikan sepuluh tusuk untuk satu porsi piring. Jikalau sedang beruntung, Pak Abdul bisa menjual lebih dari 60 piring setiap harinya.

whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-57 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-54 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-29-51 whatsapp-image-2016-09-16-at-14-28-29

Di lidah saya, cita rasa sate padang Pak Abdul tak kalah dengan sate padang yang biasa dijual di restoran-restoran mewah. Bumbu kuning sate padang Pak Abdul mempunyai rasa rempah-rempah yang kuat, terutama ketumbar, jintan bubuk, lada, dan cabainya (“Hm…! Gue yakin, nih bocah nyari di Google, kayaknya, supaya tau apa aja isi bumbunya…! Hahahah!” sekali lagi Zikri berseru geli). Belum lagi, jika dinikmati dengan saksama kuah sate padang yang ditaburi bawang goreng, melengkapi cita rasa yang melekat di setiap tusuk sate daging sapi yang segar. Tak lupa, tambahan keripik singkong balado khas Minang, yang umum menjadi menu pelengkap sate padang—Zikri sempat mengatakan bahwa pedagang sate yang tidak menyediakan keripik ini, bisa jadi dia bukan orang Minang asli.

***

Karena malam itu hujan turun dengan deras, saya dan Hillary akhirnya menyantap sate itu di sebuah warung yang tak jauh dari lokasi gerobak. Saya memesan jus alpukat, dia memesan jus apel. Kami harus memesan minuman jus di warung tersebut supaya diizinkan oleh pemilik warung untuk menikmati makanan dari luar warungnya. Ketika sate disajikan—berkali-kali saya geli mendengar Hillary saat itu berseru, “Aduh, kasihan bapaknya, ujan-ujanan…!” (Biase ae kali, Hil…! Zzz…!)—dengan mental blogger pemula, saya dan Hillary pun mengeluarkan smartphone masing-masing dan… jepret jepret jepret…!

Hillary.
Hillary.

Sempat terlintas di benak saya bahwa tingkah-laku kami berdua saat itu persis seperti para maniak media sosial yang mendokumentasikan semua hal—umumnya, makanan yang instagramable—atau seperti vlogger-vlogger yang tengah marak di YouTube. Saya juga sempat merekam sebuah video adegan Hillary menyantap sate, tetapi setelah saya tinjau kembali di laptop, ntar dulu ae dah uploadnye, ye, Hil…!?

Sembari makan, kami bergosip tentang kehidupan kampus (saya yang sudah lulus dari UI dua tahun lalu, tak begitu update dengan perkembangan gosip terbaru mengenai keseharian mahasiswa di FISIP UI). Di sela gosip, Hillary terus saja meyakinkan saya, “Enak, kan, satenya…?!” Dia juga masih tak percaya kalau di Kota Padang, tidak ada yang namanya sate padang. “Ya, iyalah! Di sana, orang nyebut ‘sate padang’ cuma dengan kata ‘sate’ aja,” ujar saya, menanggapi.

Zikri.
Zikri.

Rasa sate padang Pak Abdul cukup memuaskan lidah juga. Momen-momen yang seperti ini yang justru mengingatkan saya dengan kampung. Ondeh, Mak!

***

Bagi kalian penikmat masakan semi pedas, atau baru belajar menikmati masakan pedas, sate padang Pak Abdul menjadi pilihan kuliner yang tepat untuk memuaskan lidah. Bumbu sate padang yang gurih dan rasa daging sapi yang khas membuat kita akan terus menyantap sate padang hingga mengabaikan rasa pedas yang ada pada bumbu kuning sate padangnya. Pria yang memiliki nama lengkap Abdul Rozak Siregar (36) ini merupakan keturunanan Batak Mandailing yang berasal dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Ia membangun usaha kuliner sate padang bersama isterinya, seorang perempuan keturunan asli Minangkabau, asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Kisah kasih mereka berawal di kota Batam, mereka bekerja dalam satu perusahaan yang sama, lalu sama-sama mempunyai kesukaan akan sate padang sehingga muncul ide untuk hijrah ke Depok dan membangun usaha ini.

Sate Padang Pak Abdul dapat kita temukan dengan berjalan kaki sekitar lima menit dari gerbang Kutek. Gerobaknya selalu mangkal di sekitar pekarangan Masjid Al-Hikam, di dekat sebuah ATM BNI. Satu porsi sate padang yang berisi dua bungkus ketupat, bumbu kuning, bawang goreng, dan sepuluh tusuk sate, berharga Rp13.000,- sementara sebungkus keripik balado berharga Rp2.000,- saja. Jika ingin menikmati ketupat tanpa daging, kita cukup membayar Rp5.000,- rupiah saja. Murah, kan?!

20160914_221143
Pak Abdul, si pedagang sate yang baik hati.

Demikian pengelanaan pengembaraan perdana saya dan Zikri, menyantap masakan sate padang. Lain kali, kami akan berbagi cerita tentang menu makanan lainnya—sepertinya, di beberapa terbitan ke depan, kami akan berbagi cerita tentang makanan padang. Zikri sempat memberi usul ketika kami menunggu Gojek (Zikri harus kembali menuju markas komunitas tempatnya berkegiatan sebagai pegiat seni), bahwa kelana embara berikutnya adalah menikmati dendeng batokok di rumah makan padang sekitaran Tanah Abang. Bagaimana rasanya? Kita lihat saja nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s