Dendeng Batokok yang Hampir Terlupakan

1476262205619

Baiklah! Saya rasa ingatan tentang si dendeng batokok yang saya beli di warung Sate Padang & Dendeng Batokok Salero Uni, Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, akan semakin buram jika tak segera dituliskan. Sialnya, detik ini, saya lupa tanggal berapa dendeng batokok untuk Hillary itu saya beli. Tanggal 22 September, mungkin. [Kalau gue gak salah ingat, hari itu Siba sampai di Jakarta dari Lombok—atau sehari setelahnya, ya…?].

***

1476262204136

Sementara Zikri menyusuri Mall Kota Kasablanka untuk mencari dendeng batokok, saya masih menenggelamkan tubuh, bergolek di kasur kosan dan sengaja menahan lapar agar bisa mencicipi dendeng batokok ala kampung halaman Zikri itu dengan lahap.

***

1476262214741

Berasal dari Minangkabau, meskipun tersohor dengan rasanya yang lezat, dendeng batokok tampaknya tak seistimewa Rendang dalam hal penciptaan mitos dan filosofinya oleh masyarakat. Beberapa blogger menulis—dengan sumber yang belum terpercaya, tentu saja, tetapi situasi ini mungkin menarik (dan menggugah) karena dalam keadaan tertentu menguatkan karakteristik (atau stereotipe) atas makanan-makanan tradisional: fakta mengenai kultur tutur yang “menjamin” pelestarian segala hal yang tradisional—bahwa komposisi Rendang merepresentasikan konstruksi sosial masyarakat Minangkabau: (1) daging sapi melambangkan Niniak Mamak (pemimpin Adat); (2) Karambia atau kelapa melambangkan Cadiak Pandai (kaum intelektual); (3) Lado (cabai) melambangkan Alim Ulama; dan (4) Pemasak (bumbu) melambangkan seluruh masyarakat Minangkabau. [Gue penasaran, ada gak sih ahli yang nulis ini jadi buku?]. Sedangkan filosofi dari dendeng batokok? Sepertinya, nihil!

Tapi, jika kita mengacu pada salah satu cara memasak dendeng batokok (saya pribadi heran, kreativitas manusia terus berkembang, bahkan dalam hal memasak makanan; nyatanya ada begitu banyak cara untuk memasak jenis makanan ini, walau pada akhirnya tetap menggunakan nama yang sama, ‘dendeng batokok’), lado hijau (cabai hijau) yang merupakan rahasia andalan dalam menikmati dendeng batokok itu—bisa saja, kan, cabai hijau ini juga kita posisikan sebagai perlambangan dari pemimpin agama yang ‘segar’ (bukan pemimpin yang ‘hijau’)?!—ternyata menggunakan air kelapa sebagai salah satu bumbunya (yang diaduk bersama dengan gilingan tomat, bawang merah, garam, dan perasan jeruk nipis). ‘Cadiak Pandai’ pada ‘dendeng batokok’, dengan kata lain, hadir dalam bentuk yang cair (air kelapa). Karena keberadaannya justru menjadi kunci bagi kesegaran lado hijau, ini bisa kita lihat sebagai lambang dari: “kaum intelektual (kelapa) yang menjadi kunci kesegaran bagi sebuah lembaga sosial lainnya, yakni Alim Ulama (lado) yang menaungi masyarakat”. Saya pribadi percaya bahwa agama akan terasa begitu kering (karena hanya akan diajarkan sebagai doktrin) jika tak ada pengetahuan (kebebasan berpikir) yang mengiringinya. [Saddeeeeesssttt…! Oke, gue ngarang! Hahahaha!].

***

Aduh…! Saya harus nulis apa, ya…? [Zikri sudah seperti orang gila, tanpa henti menagih tulisan saya. Sementara, tugas seminar belum juga kelar. Deadline-nya, duh, maaaaaaaaaak!].

***

Tak banyak yang bisa saya tulis tentang “dendeng batokok” ini, sebenarnya. [Lah, lu ternyata juga mentok, kan, Zik…?! Zzzzzzzzz…!!!].

Hahaha! Terlepas dari masalah interpretasi filosofis saya tentang dendeng batokok yang sedikit “gagal-paham” itu—Yah…, paling tidak dia tetap valuable sebagai ‘dendeng batokok’ versi Zikri (dan Hillary juga, mungkin?) [“Nggak, Zik! Dih…!”]—seharusnya tulisan ini dimulai dengan kisah saya membawakan sekotak nasi dengan selauk dendeng batokok untuk makan siang Hillary di Takor (sebutan untuk nama kantin di kampus FISIP UI, Depok). [“Niat beut lu, Zik! Hahaha!”].

Itu ide sepintas lewat ketika saya mengambil visa di kantor kedutaan Polandia. Hari itu, kami gagal mengembara ke Tanah Abang untuk mencari dendeng batokok seperti yang sudah kami rencanakan. Karena, selain saya harus mempersiapkan segala hal sebelum terbang ke Warsaw, Hillary pun masih harus berhadapan dengan jadwal rapat organisasi (yang ternyata hari itu rapatnya tak kunjung dimulai hingga malam tiba) dan deadline tugas-tugas kuliahnya. Namun, di mata saya, kedua hal itu hanyalah kendala klise. Saya pun berpikir, tak ada salahnya jika agenda makan dendeng batokok kami tersebut tetap direalisasikan pada hari itu, meskipun sang dendeng harus disantap di meja makan yang jaraknya 17 km dari tempat si penjual. [Dan di saat gue berhasil mencapai meja Takor, gue harus rela menunggu lebih-kurang satu jam sampai Hillary menampakkan batang hidungnya…! Parah lu, Hil! Zzz…!].

Hillary, dengan ekspresi cerianya saat menerima dendeng batokok.
Hillary, dengan ekspresi cerianya saat menerima dendeng batokok.

Alasan untuk tetap mengupayakan agar agenda “makan dendeng batokok bersama Hillary” itu terwujud, bukan apa-apa, adalah sebagai sebuah eksperimen kebudayaan. [#tsaaah!]. Please, don’t get me wrong! Ini bukan kegiatan lucu-lucuan untuk menarik semacam perhatian—sebagaimana yang mungkin tengah diduga oleh beberapa orang, termasuk orang-orang (ter- dan di-)dekat kami. [#ups!]. Embarasa memang kami niatkan untuk bergembira: membangun kedekatan, keakraban, dan keintiman terhadap hal sehari-hari…

[“Serta mengulik kebudayaan dari sudut pandang xxxxxxxxxx… (tambain penjelasannye, ye, Bang! Wkwkwkwk!)” kalimat ini tahu-tahu nongol di file word versi suntingan Hillary. Zzzz…].

[Oke, mungkin bisa gue tambahin begini aja, Hil: ditambah sedikit “tanda tanya” di kepala Anda. [#asyek]. Hahaha!].

Maaf, Pembaca, kalau kami bercanda dengan cukup lebay! Maksud kami, tepatnya: mengulik kebudayaan dari sudut pandang yang fun, barangkali. [Au ah gelap! Haha!].

Bagi pegiat media seperti saya, di satu sisi, kegiatan ini merupakan bagian dari sebuah perayaan atas perkembangan teknologi komunikasi dan informasi masa kini yang memungkinkan semua orang saling berbagi pengalaman-pengalaman kreatif. Mengelola blog ini sebagai kanal personal, di sisi lain, merupakan bentuk latihan alternatif dalam membingkai hal remeh-temeh menjadi narasi yang begitu bernilai, setidaknya bagi kami sendiri, pengelola Embarasa. Demi cita-cita agar media alternatif ini memiliki dampak yang efektif, maka menjaga konsistensi eksperimen adalah langkah utama untuk memastikan supaya bahan untuk terbitan blog ini tetap tersedia.

***

Masalahnya, ternyata saya lapar duluan. Jadilah kemudian saya menyantap porsi saya sendiri di Kokas [Gue beneran baru tau kalau mall itu biasa dipanggil dengan singkatan “kokas” waktu Hillary teriak, “Oooh, lu belinya di Koookaaas…?!”, dengan ekspresi yang (seperti biasa) lebay, pas dia ngecek beberapa foto TKP yang gue ambil. Zzz…]. Satu porsi lainya yang dikemas ke dalam kotak makanan terbuat dari plastik yang cukup kokoh untuk dibawa dalam sebuah perjalanan melintasi rimba raya macet di waktu siang-menuju-sore, saya siapkan untuk disantap Hillary di kampus rakyat.

***

And, well…! Setibanya di kampus rakyat dengan setelan kuliah sehari-hari—baju kaos, jeans, jaket, dan ransel—saya langsung menegur Zikri yang tengah duduk merokok di salah satu meja Takor, “Woi! Mana dendengnya…?”

1476262217779

Tanpa basa-basi, Zikri menyuguhkan makanan tradisional yang terlihat dikemas dalam tampilan yang cukup modern. Bentuk nasi yang disajikan pun cukup kekinian [Halah…!]: berbentuk tempurung terbalik, seperti nasi yang sering kamu temui di restoran-restoran junk food. Tidak seperti gambar-gambar dendeng batokok yang cukup oily dan menggugah selera, seperti yang sering saya temukan di Google dan rumah makan Padang, dendeng batokok dengan kemasan modern yang sudah ada di depan mata saya saat itu, pada awalnya, terlihat agak kering dan tidak menyatu dengan sambal hijau yang ada di atas dendengnya. Saya pun sempat meragukan rasa dendeng batokok dari Zikri itu.

Seperti biasa, sebelum menyantap dendeng, saya yang hobi jeprat-jepret dengan moto “with pictures, some memories never fade” [#asyek], tidak absen merogoh saku dan mengambil handphone untuk mengabadikan momen Embarasa edisi kedua ini.

Dengan perasaan cukup ragu, saya akhirnya membelah dendeng yang tebal itu. Nyatanya, jauh dari perkiraan saya, justru dendeng batokok yang saya makan hari itu terasa begitu lembut, bumbu yang ada di dalam dendengnya menambah cita rasa nan gurih. Dendeng batokok kokas—begitu saya lebih senang menyebutnya—berhasil menaklukkan lidah saya. Cukup lama saya hanya menyantap dendeng dan nasinya saja; saya hampir lupa bahwa ada cabai hijau di dendeng batokok itu. Karena saya takut menyicipi sambal hijau si dendeng batokok [jujur saja, saya kurang suka makanan pedas], Zikri tak henti-hentinya berusaha meyakinkan saya bahwa sambal hijau dendeng batokok versi Salero Uni ini tidak pedas. Ada sekitar satu menit kami berdebat perihal “kenapa cabai bisa diolah menjadi tidak pedas”. Di akhir perdebatan, saya memberanikan diri menyantap sambal hijau si dendeng batokok.

Di luar dugaan, saya merasa aman sekaligus senang, bisa menyantap sambal yang tidak pedas sama sekali! Hurrraaayyy…!!! Hehehe! Soalnya, orang yang tidak menyukai pedas seperti saya akan kesal sekali apabila dalam makanannya terdapat instrumen yang menjadikan seluruh makanan menjadi pedas. [Zzzz….!].

Ketika dendeng batokok itu akan habis, Zikri bergumam, “Rasanya biasa aja, ya…?”

“Menurut gue, sih,…” Zikri berujar sambil terus memperhatikan saya menikmati suapan-suapan terakhir dendeng batokok, namun saya lupa lanjutan kalimatnya. Tapi menurut saya, mungkin karena dendeng batokok yang kami santap pada hari Kamis, 22 September, 2016 itu [Ya, tanggalnya bener, kok, Zik…] kurang menggambarkan apa yang tepatnya biasa kita sebut “Padang banget”. Hehehe!

Gaya kami (saya dan Zikri), sore hari di Takor, ketika dendeng batokok itu tak lagi bersisa.
Gaya kami (saya dan Zikri), sore hari di Takor, ketika dendeng batokok itu tak lagi bersisa. (Abaikan merek botol minuman! Bukan bermaksud iklan. Hahaha!).

Overall, rasa dendeng batokok yang dibeli Zikri dapat dikategorikan enak, namun cita rasa “Padang banget”-nya belum dapet. [HAHAHA! Sorry, Zik! Wkwkwkwk!]. Mungkin next time, kami akan mencoba membeli dendeng batokok langsung di rumah makan Padang. [Ke Tanah Abang-nya tetep dijadiin aja sepulang lu dari Polandia, ye, Zik! Haha!].

Advertisements

One thought on “Dendeng Batokok yang Hampir Terlupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s