Tarik-tarik Martabak

Embarasa kembali bertualang kuliner setelah cukup lama ditinggal oleh rekan satu tim kita, Zikri, yang pada bulan Oktober-November, 2016, lalu mengikuti residensi seni di Warsaw, Polandia. Sepulangnya dia dari Eropa, pengembaraan ketiga untuk edisi Embarasa ini kami lakukan pada hari Rabu, 14 Desember, 2016.

20161214_160958

Nah! Perlu dijelaskan di sini bahwa saya menulis catatan ini beberapa hari setelah kegiatan makan sore itu dilakukan, dan mengirimkannya ke Zikri sesegera mungkin. Mengingat kecerewetannya yang pada proses penerbitan artikel pertama dan kedua di Embarasa sangat naujubile…, keseriusan untuk menyelesaikan artikel ini secepat mungkin adalah bentuk tanggung jawab dari seorang rekan kreatif berdidikasi, berkomitmen, dan berkarakter. #tsah…!. Tapi, apa yang kemudian terjadi…?! Zikri justru mengulur-ulur waktu untuk mengedit tulisan ini hingga terbengkalai LEBIH DARI SATU BULAN!!!??? Dan itu rasanya: &%$#@&$@#*%@$@ !!! Awas lu, Jik!!! -_-

[“Bwahahaha! Ampun, Hil!”]

Oke…! *exhale … Kembali ke cerita pengembaraan ini, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di daerah Tebet untuk menyicipi sebuah rumah makan yang menyajikan menu martabak—setelah melewati suatu proses negosiasi pelik nan alay lewat Direct Message Instagram (karena menggunakan Whatsapp, Line, dan SMS sudah sangat biasa).

20161214_160943

Martabak yang kami coba waktu itu bukanlah martabak biasa—setidaknya bagi saya, dan abaikan saja keluhan tak berujung si Zikri yang meremehkan bentuk gedung rumah makannya! Beberapa bulan yang lalu, di laman jelajah Instagram saya muncul video martabak super cheesy—berdasarkan pengamatan gue yang merupakan… seorang individu milenial (Oke! Antum jangan komentar!), yang selalu mendayakan jempol untuk melakukan geser-atas-geser-bawah-lalu-kanan-dan-kiri layar gawai canggih nan pintar serta mobile-nya, ditariklah satu hipotesa bahwa sekarang ini, ternyata, lagi ngetrend banget apa-apa dikeju-in, dikit-dikit dimozzarella-in, dan zzzzzz…!—maka jari saya pun memutuskan untuk mem-follow @martabaklab di Instagram. Kalau kamu lihat isi Instagramnya, pasti pada ngiler dan ngomong dalam hati, “Fix! Gue harus makan ini!” And, that’s what I feel waktu pertama kali liat ig @martabaklab ini. Karena saya sering berkomunikasi dengan Zikri lewat Direct Message Instagram, saya men-share salah satu feed ig @martabaklab ini ke Zikri dan akhirnya kami pun memutuskan @martabaklab sebagai destinasi Embarasa edisi ketiga. Yuhhhuuuuuu…!

[“Wah, gaya nulis lu boljug juga, nih, Hil! Ciyeee!”]

Sore itu, hujan cukup deras mengguyur Depok (pas banget, kan, ujan-ujan makan martabak…?!). Menariknya, tim Embarasa hari itu mengajak ikut serta seorang teman, yaitu Melisa, lulusan FIB UI 2010 (find her on Instagram @ehmelisa). Kami saat itu berangkat dari lokasi yang berbeda: Zikri dan Melisa dari Forum Lenteng, sedangkan saya masih menunggu hujan reda di kampus yang tetanggaan dengan kampusnya Melisa. Saya baru sadar, belakangan, bahwa waktu itu kami bertiga menggunakan tiga medium sekaligus untuk saling bertanya keberadaan masing-masing (Instagram, SMS, dan Whatsapp—yah, akhirnya WA pun tetap digunakan juga), padahal satu medium aja cukup keleuz zzzz…zzz…zzz! Zikri dan Melisa tiba lebih dulu di TKP, saya sepuluh menit kemudian…

[“Sepuluh menit pale lu…?! *jitak]

Untung saja mereka berdua belum memesan makanan. Hahaha!

Seperti yang saya sebutkan tadi, awalnya Zikri dan Melisa terus-menerus berujar, “Kok, gak meyakinkan, ya, tempatnya…?” Saya pun jadi ragu, dan cara saya meyakinkan diri sendiri untuk mampu bertahan menghadapi keluhan skeptis mereka adalah: buka ig @martabaklab dan kembali ngeliat feeds ig-nya, terus suggested ke diri sendiri di dalam hati, “Pasti gak zonk…, pasti gak zonk…, pastiiiiii…!”

20161214_164439

Ternyata, Guys, Martabak Lab yang berlokasi di Jalan Tebet Utara Dalam ini bentuknya memang seperti food container kecil dengan tulisan “This Is Not Meth”!!! Pertama kali mencari lokasinya, saya juga sempat kebingungan karena tulisan “Martabak Lab”-nya tak begitu kentara. Tapi, letaknya tidak jauh, kok, dari Comic Cafe. Dari Stasiun Tebet, kamu bisa menempuhnya dengan berjalan kaki menuju pertigaan di dekat Comik Cafe, lalu berbelok di pertigaan itu dan carilah Eat Happened, lokasi Martabak Lab persis berada di seberangnya!

Lah, kalau bentuknya kayak food container, berarti area untuk duduknya sempit, dong…??? Jangan khawatir, karena food container Martabak Lab itu berdiri persis di depan (area parkir) kafe yang cukup PW buat nongki-nongki, Dine Inn, dan kita bisa memesan menu Martabak Lab untuk dimakan di kafe tersebut.

20161214_160926

Setelah ketiganya berkumpul di TKP, kami memutuskan untuk memesan martabak Italian Favourite dengan harga 86k. Berhubung hari itu lagi happy hour (15:00 – 18:00 WIB), kami berhak memesan dengan gratis satu martabak manis. Sayangnya, menu gratisan khusus happy our ini hanya bisa dipesan kalau kita membeli menu Italian Favourite saja, tidak berlaku untuk menu martabak yang lain. Sementara itu, martabak manis chocolate meises + peanut + cheese adalah menu gratisan yang kami pilih. Bener, kan, udah makan yang asin ama gurih, terus dinetralin pake yang manis-manis…? *preeet, teori darimane*

Ketika menu pertama menghampiri meja kami, hanya ada satu kata yang langsung keluar dari mulut saya dan Melisa: “Wuiiihhhh!!!”

20161214_163405

Menu martabak yang satu ini terdiri dari tiga bahan utama saus—sebenernya, gue agak bingung untuk ngebedain ini saus demi-glace atau saus tomat biasa—lalu keju, paprika hijau, dan beef. Hanya saja, bagi kalian yang berharap bahwa menu Italian Favourite ini akan tampak seperti di video-video yang kejunya BEUH banget, saya sarankan jangan pesan ini. Menurut saya, tampilan keju di menu ini kurang Instagramable. Hahahaha!!! Ya, banyak, sih, kejunya, tapi untuk ditarik-tarik seperti yang ada di video promosi Instagramnya itu, menu ini sangat tidak cocok. Kalau soal rasa, dari skala 1-10, saya beri nilai 8, deh! Kalau menurut Zikri dan Melisa, berapa…?

[“Ya, lumayan lah… tujuh koma lima, kali ye…?!”]

20161214_163132

20161214_163215

Untuk martabak manisnya…, ya, standar lah: porsi keju, coklat, dan kacangnya lumayan oke, tapi yang terasa di gigitan pertama justru lebih dominan kacangnya daripada kejunya. Dalam waktu lima menit, Italian Favourite kita ludes (sisa satu, sih, sebenernya). Zikri makan beberapa gigit saja sehingga saya dan Melisa seketika merasa bersalah. Soalnya, sebagian besar biaya untuk hajat kami di Martabak Lab hari itu ditanggung oleh Zikri. Wkwkwk! Tapi kami tak begitu khawatir, karena masih ada martabak manis gratisan dari happy hour yang masih bisa disantap Zikri.

20161214_171049

Ternyata, saya dan Melisa masih ingin makan martabak telur yang Instagramable itu. Untung kami sepemikiran dengan Zikri, donatur kami. Hahaha! Akhirnya, saya dan Melisa memesan satu menu lagi yang kalau kamu lihat di Instagram @martabaklab, fix, kalian akan langsung datang untuk menyicipi menu-menu martabak di food container ini…! Kami memesan Meat and Cheese Lovers’. Untuk menu ini, kami akah share ke kamu semua proses pembuatannya. Please, check it out: our first amateur vlog! Wkwkwk!

The biggest power of Meat and Cheese Lovers’ ini memang mozzarellanya yang super banyak dan, pastinya, kalau kita tarik-tarik buat difoto untuk Instagram, orang-orang bakal ngiler. Saya dan Melisa pun melakukan hal yang sama. Hahaha! Pantang makan sebelum foto dan update di Instagram Stories kita. Saya sempat mengira bahwa kata “meat” dari menu martabak ini adalah daging-daging cincang biasa. Ternyata, daging yang dimaksud adalah sosis sapi. Lezat!

Pelayanan Martabak Lab juga cukup memuaskan. Abang-abangnya ramah dan sangat open sama masukan, loh! Sewaktu saya merekam proses pembuatan martabak, si abang-abang sempat bertanya, “Kira-kira ada yang kurang, gak, Mbak dari menu kita? Ya, gak pa pa, buat masukan, siapa tau ada yang bisa ditambahin…” Melisa lantas memberikan masukan ini-itunya untuk menu Italian Favourite.

img-20170130-wa0029
Hillary (berdiri) dan Melisa (duduk di kursi) sedang bersiap pulang setelah menikmati martabak di Martabak Lab.

*Kembali memberi rating* Berdasarkan skala 1 sampai 10, saya beri nilah 7.5 secara keseluruhan untuk Martabak Lab. (Kalo lu berdua gimana, Mel, Zik?)

[“Berapa, yak? Hahaha. Gue udah terpesona duluan ama gaya tulisan lau!” *preet]

Menutup tulisan ini, saya ada satu saran untuk martabak lab: happy hour-nya jangan hanya untuk satu menu yang paling mahal dong, Bang! Wkwkwk! Untuk menu favorite, misalnya Meat and Cheese Lovers’, kayaknya juga oke, tuh, kalau bisa ada dalam kategori happy hour. HEHEHHEHEHE!!! Saran untuk kamu, pembaca Embarasa, silakan follow dulu akun Instagram @martabaklab. Bisa dipastikan, realita di Instagram dan aslinya gak jauh beda kok. Sumpeh…!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s